Pameran, konser, dan pemutaran film dokumenter perjalanan komunitas musik metal di Kota Semarang akan digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, 16 Oktober mendatang.

Menurut Rudy Murdock, pentolan band Radical Corps, penyelenggara ajang itu, di Semarang, Senin, musik metal tak sekadar musik cadas, namun memiliki pesan-pesan yang sarat kritik sosial.

“Pada awalnya, band kami sering dipandang sebelah mata. Kenapa memilih musik metal? Kenapa tidak musik-musik yang populer lain? Sampai ada yang memprediksi kalau band kami tak akan bertahan lama,” katanya.

Akan tetapi, kata dia, kekonsistenannya mengusung genre musik metal yang kerap bersuara vokal atas permasalahan sosial yang terjadi membuat Radical Corps mampu bertahan 19 tahun sampai saat ini.

Untuk merayakan ulang tahun band itu, Radical Corps mengadakan konser musik yang dikemas dengan pameran seni rupa, pameran foto, dan pemutaran film dokumenter yang tentunya bertutur seputar musik metal.

Ia mengatakan, ajang itu bukan sekadar konser musik biasa, karena berkolaborasi seni rupa, menggandeng sejumlah komunitas seni, seperti Komunitas Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan “Outsiders Ink!”.

“Bahkan, kami sampai melakukan ’polling’ (jajak pendapat) via jejaring sosial untuk menentukan band-band metal pendatang baru yang akan didaulat tampil dalam konser nanti. Akhirnya, kami dapat dua band,” katanya.

Dua band itu, kata dia, “Geram” dan “Propaganda” diharapkan mampu menjadi penerus generasi musik metal di Kota Semarang, mengingat personel “Radical Corps” dan band-band metal seangkatannya yang kian berumur.

Melalui ajang bertema “Time Machine” itu, ia mengaku, sekaligus untuk meraba keberadaan komunitas musik-musik metal yang saat ini ada di Kota Semarang, mengingat sudah memasuki era bebas berpendapat dan berekspresi.

Rudy yang juga koordinator pergelaran “Time Machine” itu mengaku, iklim berpendapat dan berekspresi saat ini sangat jauh berbeda dibanding saat awal-awal berdirinya band metal tersebut pada tahun 1992.

“Dari dulu sampai sekarang, kami tetap konsisten menyampaikan kritik-kritik sosial terhadap pemerintah, baik tentang isu pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan hidup. Tentu saja, melalui musik,” kata Rudy.

Senada dengan itu, Enggar, panitia “Time Machine” lainnya, menjelaskan, para penikmat musik cadas, termasuk rock bisa mengetahui sejarah perjalanan musik rock di Kota Semarang melalui pameran foto.

“Kami ingin menunjukkan bahwa musik metal mengandung pesan-pesan moral dan sosial. Termasuk melalui pemutaran film dokumenter yang kami garap selama enam bulan,” kata bassis “Radical Corps” itu.

By.Semarang, Kompas.com